Beda Generasi

18 Jan 2018, 13:24

Dasar anak jaman sekarang nggak paham sopan santun! Maunya ditegur duluan, nggak kenal aturan! Songong amat nih anak! Umpatan-umpatan seperti itu seringkali kita temui apabila kita berhadapan dengan teman sekerja yang masih baru atau yang usianya terpaut jauh lebih muda dari kita. Kedongkolan tadi sering menjadi bahan perbincangan diantara kita atau minimal kita tahan sendiri kedongkolan tadi dan yang paling bahaya adalah ketika kita mencap mereka sebagai orang yang sombong dan menyebalkan.

Kejadian tadi kerapkali terjadi dimanapun baik dalam dunia kerja maupun pertemanan atau malah kadangkala dalam urusan keluarga. Salahkah mereka atau mungkin standar kesopanan kita yang terlalu tinggi. Atau mungkin sudah jamannya begitu sehingga secara sederhana kita menyimpulkan bahwa telah terjadi penurunan standar dalam bermasyarakat kita.

Mari kita sudahi dulu kedongkolan dan omelan kita sambil mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yuk kita lihat dari sudut pandang perbedaan generasi. Pada umumnya generasi didunia dibagi delapan yang antara lain adalah; lost generation, greatest generation, silent generation, baby boomers, “x”, “y”, “z” dan “alva atau edge” tetapi dalam konteks manajerial perusahaan saat ini  yang eksis adalah baby boomers, “x”, “y” dan “z” selain generasi tersebut mari kita lewatkan yang lainnya. Untuk lebih jelasnya silahkan perhatikan gambar berikut:

 

 

 

     1946 - 1962                 1963 – 1980                 1981 – 1994                   1995 – 2009

Baby Boomer (1946 – 1962)

Ciri khas dari generasi Boomers adalah mereka sangat mengedepankan nilai disiplin, keseriusan, dan bekerja keras. Hal ini disebabkan karena mereka adalah generasi mendapatkan segala suatunya melalui kerja keras. Baby boomer agak terganggu ketika melihat anak jaman sekarang (khususnya Gen Y), baby boomer berpendapat bahwa kedisiplinan, keseriusan,  dan kerja keras adalah suatu keharusan yang tidak bisa dihindari.

Dalam bekerja baby boomer memegang teguh konsep ‘loyalitas pada perusahaan’ yang mendalam dibandingkan generasi yang lebih muda. Rata-rata masa kerja mereka di suatu perusahaan bisa belasan hingga puluhan tahun bahkan mereka rela merangkak dan mengantri terhadap karir yang diimpikan di perusahaan dan tetap tinggal di suatu perusahaan dari lulus sekolah hingga pensiun. Baby boomer sering bingung melihat generasi yang dibawahnya berani dan dengan gampangnya lompat pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Baby boomer adalah raw model yang baik ketika diposisikan sebagai fasilitator atau motivator tentang loyalitas, integritas dan mereka akan dengan senang hati untuk membagi cerita pahit getirnya pengalaman dalam bekerja.

Generasi “X” (1963 - 1980)

Seringkali dicap sebagai generasi ‘kutu loncat’. Dimana pekerja bisa loncat pindah ke tempat kerja lain dalam waktu yang singkat. Baby boomer dapat bertahan belasan hingga puluhan tahun bekerja di suatu perusahaan, generasi “x” bertahan 5 sampai 7 tahun sudah merupakan prestasi yang luar biasa. Hal tersebut disebabkan oleh adanya pergeseran nilai dalam pandangan generasi “x” dimana pada awalnya kesetiaan didedikasikan kepada perusahaan bergeser menjadi kepada profesi. Prinsip bekerja generasi “x” adalah jika ada tempat yang lebih menjanjikan karir yang lebih baik, langsung loncat. Selain gaji, mereka juga mengejar kesempatan untuk pelatihan. Pelatihan sebagai sesuatu yang sangat penting dan membanggakan dalam mengembangkan kapasitas mereka sebagai profesional pada bidang masing-masing.

Generasi “x” lebih  tegas dalam membatasi antara waktu kerja dan pribadi. Mereka bisa sangat sensitif dengan hak mereka bila sudah diluar jam kantor. “x” akan tersinggung jika ada perintah yang menggangu “me time” nya dan menjadi isu yang besar jika garis tegasnya diusik. Namun demikian generasi “x” mudah beradaptasi dengan perkembangan teknologi dibandingkan generasi sebelumnya. Generasi “x” familiar dengan internet, video games dan TV kabel.

Mereka juga kebagian sedikit sisa-sisa “flower generation” dimana ganja mulai dikenal dalam pergaulannya. Respek terhadap orang lain juga jangan terlalu diharapkan kepada generasi “x”. Jane Deverson (seorang jurnalis Inggris yang meneliti gen “x”), berpendapat sebagian generasi ini memiliki perilaku negatif seperti tidak hormat pada orang yang lebih tua. Selain itu generasi “x” kerapkali menghitung kontribusi yang telah diberikan perusahaan terhadap hasil kerjanya. Dalam hal pengambilan keputusan dan komunikasi, generasi “x” lebih egaliter dibandingkan generasi sebelumya yang formil.

Generasi “Y” (1981 - 1994)

Perkenalkan, si “Y” yang sekarang sedang eksis dalam dunia kerja. Jangan berharap untuk ditegur duluan oleh “Y” jika sedang berhadapan dengan mereka dan cenderung mereka menunggu untuk ditegur atau disapa duluan walaupun yang berada didepan mereka lebih senior karena mereka berprinsip agar eksistensi mereka dihargai. Kelebihan mereka dalam hal penguasaan teknologi jauh diatas generasi sebelumnya membuat kepercayaan diri mereka diatas rata-rata.

Ciri “Y” yang paling menonjol adalah individualis dan dengan cepat melupakan semua kejadian yang telah mereka alami (move on). Sifat ini karena “Y” cenderung lebih nyaman dengan peralatan canggih seperti gadget yang dianggap dewa penolong ketimbang teman yang dianggap sebagai kompetitor terdekat. Marah terhadap “Y” benar-benar membuang energi karena mereka bukan generasi yang mudah diintimidasi dan dengan ancaman terhadap karir dalam bekerja. “Resign” menjadi kata-kata yang enteng mereka ucapkan karena “Y” tidak pernah takut untuk kehilangan pekerjaan dan wirausaha atau bekerja di rumah merupakan simbol keberhasilan untuk generasi ini.

Generasi “Z” (1995 – 2009)

Sebagian generasi “Z” sudah mulai memasuki dunia kerja formal, generasi ini mewakili era digital. Mari kita ambil contoh mengenai rasa takut, baby boomer akan takut pada mitos atau pamali, yang ditakuti oleh generasi “X” bayangan sendiri yang belum tentu akan terjadi dan bisa jadi itu dalam pikirannya sendiri. Lain lagi dengan generasi “Y”, mereka takut pada tercemarnya akun media sosial mereka atau bully. Lalu hal apa yang paling ditakuti oleh generasi “Z”? Sinyal wifi, yup sinyal wifi sangat berarti buat mereka karena tanpanya mereka tidak dapat terkoneksi dengan dunianya. Terhubung dengan sosial media (path, instagram, twitter dan lain-lain) jauh lebih berharga ketimbang dengan koneksi yang bersifat fisik. Hampir mirip dengan “Y” hanya saja “Z” lebih multi tasking dalam menghadapi pekerjaan tapi jangan kaget karena dalam menyelesaikan tugasnya, mereka tetap menyempatkan diri untuk update status. Jangankan mengerjakan tugas, sebelum makan atau mau memilih barang kesukaannya pun mereka akan potret dulu untuk kemudian di share di media sosial.

Lalu bagaimana interaksi antar keempatnya, baby boomer meletakkan respek dan loyalitas diatas segalanya, “X” cenderung mengikuti aturan dan kaidah yang berlaku dan terkadang “SOP minded” dan “Y” adalah yang tercerdas untuk saat ini. Ide brilian yang “out of the box” adalah ranahnya generasi “Y”. Jadi dalam konteks komunikasi manajerial jangan pernah bicara yang berputar-putar dengan generasi ini, “to the point” saja dan jangan pernah bicara serius dengan cara formal kepada generasi “Y” dan sebagian “X” begitu juga dengan “Z”. Secara sederhana jangan terlalu diambil hati atau merasa dicuekin ketika berinteraksi dengan “Z” karena bukan tidak mungkin ketika ngobrol dengan “Z” jari dan mata mereka sambil berinteraksi juga dengan gadget yang dipegangnya atau ketika sedang mengetik, tangan dan pandangan mereka menatap ke keyboard dan monitor tapi headset tetap tersambung ke ipod.

Saling menghargai adalah satu-satu cara yang paling mujarab agar hubungan antar generasi dapat berjalan dengan baik. Generasi senior sebaiknya tidak perlu mengharapkan untuk dihormati secara berlebihan dengan yang lebih junior dan generasi yang lebih junior jangan terlalu tidak peduli terhadap sesama dan lingkungannya. Jika semua dapat berjalan dengan baik dan respek antar generasi tersebut telah terwujud maka sinergi antar beda generasi akan menghasilkan hal yang positif dengan cara saling menutupi kekurangan dari lintas generasi dan bermanfaat bagi semua dan satu lagi, masih akan ada lagi generasi-generasi baru yang akan lahir setelah ini. -arsamodra-