Tahun Politik, Bagaimana Prospek Asuransi Umum di Indonesia?

01 Feb 2018, 20:15

Tahun ini disebut-sebut sebagai tahun politik, karena akan digelar Pilkada serentak di seluruh wilayah Indonesia. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyebutkan, situasi politik ini akan menjadi tantangan untuk pertumbuhan industri asuransi umum nasional.
Ketua umum AAUI, Dadang Sukresna menjelaskan, dalam tahun politik ini. Pelaku industri asuransi umum harus berhati-hati dalam berekspansi usaha.
"Tantangan utamanya adalah bagaimana tetap tumbuh berkembang dan berhati-hati dalam menghadapi suasana politik," kata Dadang saat dihubungi detikFinance, Senin (8/1/2018).
Dadang menjelaskan, tahun ini produk asuransi properti seperti asuransi kebakaran dan asuransi kendaraan bermotor masih mendominasi dan menjadi pendorong pertumbuhan tahun ini.
Direktur Utama salah satu perusahaan asuransi yang ada di Indonesia, Julian Noor mengaku optimistis industri asuransi umum di Indonesia masih tumbuh. Hal ini seiring dengan harapan ekonomi Indonesia yang akan tumbuh lebih baik dari tahun lalu meski kenaikan tidak terlalu tinggi.
Julian menjelaskan, pertumbuhan premi akan terjadi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor, asuransi properti, asuransi kesehatan dan asuransi marine cargo.
"Tantangannya adalah hampir semua perusahaan asuransi mengandalkan pada target lini bisnis yang sama sehingga akan meningkatkan persaingan diantara perusahaan asuransi umum," kata Julian.
Dia menambahkan, kunci untuk merebut pasar adalah pelayanan yang baik. Namun bila perusahaan asuransi umum terjebak pada persaingan harga premi, maka akan berdampak pada kesehatan perusahaan, yang akhirnya berpengaruh pada pelayanan klaim masyarakat sebagai nasabah asuransi.
Asuransi Ranmor Hingga Kesehatan Masih Diminati Masyarakat
Asuransi adalah pilihan yang penting untuk proteksi atau perlindungan. Mulai dari proteksi kendaraan bermotor, properti hingga asuransi kesehatan.
Julian Noor menjelaskan, di Indonesia asuransi kendaraan bermotor dan properti masih menjadi produk yang diproyeksi masih diminati dan bisa tumbuh tahun ini.
Hal ini karena, saat ini banyak pembelian kendaraan menggunakan skema pembiayaan menggunakan lembaga jasa keuangan seperti bank dan multi finance.
"Mayoritas masyarakat sekarang membeli mobil dan motor menggunakan skema kredit. Nah mekanisme ini, ada syarat menggunakan asuransi sebagai proses mitigasi risiko baik untuk pemberi kredit atau penerima kredit," kata Julian saat dihubungi detikFinance, Senin (8/1/2018).
Selain kendaraan dan properti, asuransi kesehatan juga menjadi salah satu produk yang diproyeksi bisa tumbuh. Saat ini asuransi kesehatan sudah menjadi tren di perusahaan yang ingin melindungi karyawan.
Ketua umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dadang Sukresna menjelaskan, produk properti kendaraan bermotor jauh di atas produk asuransi lainnya. Sehingga, akan sulit untuk lini usaha lain untuk menyusul kedua produk ini.
Dadang yakin, perusahaan asuransi bisa tumbuh. Saat ini arus informasi lebih mudah didapatkan oleh masyarakat. "Dengan informasi yang deras, maka pengetahuan akan kebutuhan dan manfaat asuransi bisa meningkat," ujar dia.
Dia menambahkan, kesadaran masyarakat juga akan meningkat dengan banyaknya informasi yang ada. "Misalnya soal asuransi kerugian akibat bencana alam, manfaat asuransi kendaraan hingga asuransi kesehatan," ujar dia.
Dari data AAUI kuartal III 2017 jumlah premi asuransi umum hingga kuartal III 2017 tercatat Rp 44,2 triliun, tumbuh 2,8% dibanding kuartal III 2016 sebesar Rp 43 triliun. Kemudian untuk klaim kuartal III 2017 tercatat Rp 19,8 triliun turun 2,5% dibandingkan kuartal III 2016 sebesar Rp 20,2 triliun.
Untuk premi asuransi kendaraan bermotor tercatat Rp 12,45 triliun tumbuh 11,6% dibandingkan periode kuartal III 2016 sebesar Rp 11,16 triliun. Kemudian untuk jumlah klaim kuartal III 2017 tercatat Rp 5,53 triliun tumbuh 1,2% dibandingkan periode kuartal III 2016 Rp 5,47 triliun.(ang/ang)
Sumber : finance.detik.com